Senin, 13 Juli 2020

Geologi Di Ibukota Baru Negara (IKBN)


Geologi Di Ibukota Baru Negara (IKBN)

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Salam Sejahtera Bagi Kita Semua.

Wilayah Kalimantan timur dipilih oleh pemerintah sebagai wilayah ibukota baru negara. Lebih tepatnya di sebagian wilayah kabupaten Kutai Kertanegara dan sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.

Gambar: Letak IKBN oleh Kementrian BUMN

Jika dilakukan perbandingan berdasarkan luas wilayah antara DKI Jakarta dengan Ibukota baru negara, maka DKI Jakarta relative sedikit lebih luas.
Perlu diketahui bahwa di Pulau Kalimantan ada banyak kawasan tambang batu-bara. Perlu diketahui juga bahwa Kalimantan juga kaya akan hasil minyak bumi dan gas alamnya, serta menjadi tempat favorit untuk melakukan eksplorasi migas.

Gambar: Profil IKBN

Di ibukota baru negara (IKBN) ini hampir sebagian besar tanahnya dikuasai oleh beberapa perusahaan batu bara. Dalam kasus ini, menurut saya pemerintah sudah memiliki cara dan strategi tersendiri untuk menguasai tanah-tanah tersebut.

Menurut hasil pertimbangan pemerintah sendiri, wilayah Kalimantan timur dipilih sebagai kandidat ibukota baru negara karena beberapa aspek diantaranya yaitu:
  • Bebas dari bencana gempa bumi
  • Bebas dari bencana Tsunami.
  • Dekat dengan kota yang berkembang.
  • Berpotensi kecil terjadinya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Mari Kita Jabarkan Aspek-Aspek tersebut:

1. Bebas dari bencana gempa bumi

    Gambar: Patahan patahan pada garis atas terbentuk akibat kompresi/pembebanan.

Jika dilihat melalui peta geologi, didekat IKN baru terdapat garis kecil yang menggambarkan patahan, patahan ini sendiri diakibatkan karena adanya kompresi/tekanan dan bukan dari aktivitas tektonik (tektonik=aktivitas pergerakan lempeng), tapi balik lagi masih belum diketahui apakah patahan tersebut masih aktif/tidak. Mungkin bagi yang tahu atau punya pendapat bisa ditulis di kolom komentar ya……

Kalo berbicara soal gempa, gempa itu salah satunya terjadi akibat adanya tumbukan antar lempeng (Convergent yang nantinya menjadi Subduksi) dimana salah satu lempengnya menunjam kebawah (lempeng samudra karena memiliki densitas yang lebih besar berkisar 3,3 g/cm3) sedangkan lempeng yang satunya terangkat (lempeng benua, karena meiliki densitas yang lebih kecil berkisar 2,7 g/cm3).

Gambar: Ilustrasi Subduksi

Nah,,,,, dalam hal ini akan ada suatu masa dimana pergerakan/pergesekan kedua lempeng ini tersendat/tersangkut karena bidang gesekan terkadang bergerigi.

Coba bayangkan kalo lempeng sampai tersendat/mampet otomatis tenaga yang dibutuhkan untuk memaksa kedua lempeng tersebut kembali bergerak maka tidak lain dan tidak bukan adalah bertambahnya energi. Energi tersebut biasanya terkumpul dalam waktu yang cukup lama sehingga lama kelamaan tidak dapat ditahan lagi sehingga menyebabkan terjadinya “pelepasan energi”. Dan Booooommmmmm!!!!!!! terjadilah sebuah getaran atau gelombang atau guncangan yang kita simpulkan sebagai “Gempa”.

2. Bebas dari bencana Tsunami.
Gambar: Ilustrasi Tsunami

    Tsunami merupakan suatu bencana geologi yang dapat terjadi sesaat setelah terjadinya gempa bumi “hanya jika terjadi di laut dan memenuhi kriteria tertentu”. Nah, menurut mata kuliah Analisis Bahaya Geologi yang pernah saya pelajari, dikatakan bahwa:

“Apabila suatu gempa terjadi di dasar laut dengan kedalaman <60 Km dari permukaan bumi dan dengan magnitudo (besaran) sekitar kurang lebih 6-7 Skala Richter. Maka jika beberapa syarat tersebut telah terpenuhi kemungkinan besar akan terjadi tsunami"

Di IKBN, tsunami yang berpotensi adalah tsunami tipe longsoran. Pada bagian timur IKBN, terdapat sebuah lereng yang cukup curam dan ini bisa saja berpotensi terjadinya lonsor.

Gambar: Lokasi yang berpotensi longsor.


Gambar: Jika dilihat secara 3D

Pada gambar diatas, yang saya lingkari warna merah terdapat perbedaan gradasi warna yang kontras, batas perbedaan tersebut saya beri garis warna kuning. 
  • Warna biru muda pada laut memiliki arti bahwa laut tersebut memiliki kedalaman yang masi relatif dangkal.
  • Warna biru tua pada laut memiliki arti laut dalam.
  • pada garis kuning ini lah yang merupakan tebing yang relatif curam dan bisa berpotensi longsor menyebabkan tsunami nantinya.
Untuk potensi tsunami sendiri menurut suatu lembaga, diperkirakan Frekuensi terjadinya bencana tsunami di IKBN adalah 160.000 tahun sekali.

3. Dekat dengan kota yang berkembang.
    Dalam mengembangkan IKBN, diperlukan jalur transportasi yang memadai serta lokasi-lokasi strategis disekitarnya yang mampu menunjang dalam peengembangan IKBN yang sesuai dengan konsep awal perencanaan pemerintah BAPPENAS.
Dalam hal ini pemerintah bisa saja menggait pihak swasta untuk bisa membantu meningkatkan laju perkembangan IKBN, tetapi beda lagi kalo dalam hal yang menyangkut pemakmuran untuk masyarakat.

4. Berpotensi kecil terjadinya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).


Gambar: Potensi Karhutla


Gambar: Peta Karhutla oleh BNPB


Gambar: Titik Api dari data BMKG 2013

    Berdasarkan peta titik api karhutla, di wilayah tidak jauh dari IKBN terdapat sebuah titik api, hal ini tentu saja patut dipertimbangkan dan diwaspadai oleh pemerintah.
Di sekitar IKNB banyak terdapat formasi-formasi lapisan batuan yang kaya akan batu-bara. Dan perlu diketahui bahwa batubara itu mudah terbakar.

~Nah ada beberapa aspek tambahan yang perlu kita pikirkan juga menyangkut wilayah Kalimantan ini diantaranya yaitu:

5. Ketersediaan air bersih.
  Bagi beberapa penduduk Kalimantan, ketersediaan air bersih sangat sulit. Berdasarkan pandangan kegeologian bahwa salah satu penyebabnya adalah dikarenakan daerah tersebut sangat minim akuifer, hal ini disebabkan kondisi tanah /batuan yang didominasi oleh material lempung. Material lempung tidak dapat menyimpan air, material yang dapat menyimpan air adalah material pasir (lebih besar dari lempung).

“Jadi dalam salah satu webinar yang saya hadiri, pemateri yang merupakan orang kalimantan bercerita bahwa ada suatu kejadian tentang penduduk sekitar yang menggali sumur untuk mencari mata air, eh yang keluar malah air berwarna keruh (sejenis air yang bercampur dengan material lempung) dan ada juga yang melakukan pengeboran kemudian yang keluar malah  gas yang nantinya bisa saja menyebabkan kebakaran"

Kita belum tahu pasti kedalaman air bersihnya berapa jika ingin melakukan pengeboran sumur, itupun belum tentu kita bisa mendapatkan air. Jadi menurut saya perlu dilakukan riset lebih lanjut menggunakan pedekatan geologi dan metode geofisika.
Salah satu solusi menurut saya dalam menanggulangi krisis air bersih adalah dengan melakukan desalinisasi air, yaitu mengelola air laut terdekat menjadi air tawar yang layak digunakan guna memenuhi kehidupan sehari-hari serta bisa juga membuat waduk untuk menampung air hujan.

6. Potensi bencana banjir.


Gambar: Potensi Banjir

Potensi banjir di IKNB itu pastilah ada, dan lokasi-lokasi yang rawan banjir biasanya terdapat di daerah yang memiliki topografi yang lebih rendah. Banjir biasanya terjadi di daerah yang dekat dengan aliran sungai. Sungai yang ada di sekitar IKBN bersifat pasang-surut, hal ini dipengaruhi supply air dari selat makasar.

“Sifat air adalah mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah”

Jika dipikirkan secara logika, kita tahu bahwa dalam pelajaran sedimentologi material lempung adalah material paling kecil. Material lempung memiliki sifat yang impermeabilitas (sangat buruk dalam meneruskan fluida dalam kasus ini adalah air sehingga air tertahan dan tidak dapat meresap kedalam tanah). Hal ini menyebabkan banjir yang awet…

Apabila terjadi bencana banjir yang berlarut-larut, salah satu solusi yang terpikirkan oleh saya saat ini adalah “Memompa air banjir tersebut kembali ke sungai/asalnya” dan bisa juga dengan pengaturan drainase yang baik dan benar.

Semoga bermanfaat...
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Referensi:
Adapun referensi-refereensi diatas saya dapatkan berdasarkan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renungan Penulis

Penulis bernama lengkap Fajar Nur Rahman. Penulis memulai kariernya dengan berkuliah di Institut Teknologi Sumatera sebagai Mahasiswa Kupu-k...